Berita  

Masyarakat Desa Tersisih karena Proyek Wisata Elit

Bayang-bayang Kemewahan: Desa yang Tersisih oleh Wisata Elit

Pariwisata sering digadang sebagai motor penggerak ekonomi dan pembawa kesejahteraan. Namun, di balik gemerlap proyek wisata elit, tersimpan cerita pilu masyarakat desa yang justru tersisih dan terpinggirkan di tanah mereka sendiri. Janji manis investasi besar, lapangan kerja baru, dan peningkatan pendapatan seringkali menjadi buaian awal yang pada akhirnya berujung pada kekecewaan.

Realitasnya tak seindah yang dibayangkan. Tanah-tanah produktif warga, baik sawah maupun kebun, beralih fungsi menjadi resort mewah, hotel bintang lima, atau lapangan golf. Akses terhadap pantai, sumber air, atau area komunal yang dulunya terbuka bagi penduduk lokal, kini dibatasi bahkan ditutup karena menjadi area privat penginapan. Masyarakat yang dulunya hidup mandiri dengan bertani atau melaut, kini hanya menjadi penonton atau pekerja upahan dengan gaji minim di tanah leluhur mereka.

Kearifan lokal dan tradisi pun terkikis, digantikan oleh budaya komersil yang asing bagi mereka. Terciptalah jurang pemisah yang mencolok antara kemewahan turis dan kemiskinan warga sekitar. Mereka yang seharusnya menjadi bagian tak terpisahkan dari daya tarik wisata, justru teralienasi, kehilangan mata pencarian, dan terputus dari akar budaya mereka.

Fenomena ini adalah pengingat bahwa pembangunan pariwisata haruslah inklusif dan berkelanjutan, bukan sekadar mengejar profit. Partisipasi aktif masyarakat desa, perlindungan hak-hak tanah, dan pemberdayaan ekonomi lokal adalah kunci agar "surga" wisata tidak berarti "neraka" bagi penghuni aslinya. Sudah saatnya kita meninjau kembali, untuk siapa sebenarnya pariwisata ini dibangun?

Exit mobile version