Terjepit Krisis: Buruh Migran dalam Pusaran Badai Global
Krisis global, baik yang dipicu oleh pandemi, gejolak ekonomi, maupun konflik geopolitik, tak hanya mengguncang negara-negara maju, tetapi juga memberikan pukulan telak bagi kelompok paling rentan: buruh migran. Mereka adalah tulang punggung ekonomi di banyak negara penerima dan penyumbang devisa di negara asal, namun seringkali menjadi yang pertama terpinggirkan saat badai menerpa.
Di tengah perlambatan ekonomi, gelombang PHK massal menjadi ancaman nyata. Buruh migran, yang seringkali menempati sektor informal atau pekerjaan dengan kontrak sementara, menjadi target pertama pemutusan hubungan kerja. Jika pun bertahan, mereka rentan terhadap pemotongan upah, kondisi kerja yang memburuk, hingga eksploitasi yang semakin parah akibat keputusasaan. Jaring pengaman sosial yang minim atau bahkan tidak ada di negara penerima, membuat mereka semakin tak berdaya.
Dampaknya berantai. Penurunan pendapatan berarti berkurangnya remitansi, yang langsung memukul ekonomi keluarga di kampung halaman. Proses repatriasi menjadi rumit dan mahal, seringkali tanpa dukungan memadai, meninggalkan mereka terdampar tanpa pekerjaan dan prospek. Lebih jauh, krisis juga bisa memicu sentimen anti-migran, diskriminasi, bahkan xenofobia, menambah beban psikologis dan sosial mereka.
Kondisi ini menyoroti kerapuhan sistem perlindungan buruh migran global. Diperlukan kerja sama internasional yang lebih kuat, kebijakan migrasi yang adil dan manusiawi, serta penguatan mekanisme perlindungan di tingkat nasional dan bilateral. Pengakuan atas kontribusi mereka dan penjaminan hak-hak dasar, bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga investasi untuk stabilitas dan pemulihan ekonomi global yang berkelanjutan. Tanpa perhatian serius, nasib buruh migran akan terus terjebak dalam pusaran krisis tanpa ujung.
