Mimpi Kota Layak Anak: Masih Terjegal Realita di Banyak Daerah
Konsep Kota Layak Anak (KLA) adalah cita-cita luhur yang mengimpikan sebuah ekosistem di mana hak-hak anak atas perlindungan, partisipasi, tumbuh kembang, dan kelangsungan hidup terpenuhi secara optimal. Namun, di banyak daerah di Indonesia, mimpi indah ini masih jauh dari harapan, terjegal oleh berbagai realita lapangan.
Jauh dari Definisi Ideal
KLA bukan sekadar taman bermain atau ruang hijau. Ia mencakup sistem perlindungan anak dari kekerasan dan eksploitasi, akses pendidikan dan kesehatan yang berkualitas, partisipasi anak dalam pengambilan keputusan, serta infrastruktur yang aman dan ramah bagi mereka. Sayangnya, banyak daerah masih bergulat dengan masalah fundamental.
Tantangan Nyata di Lapangan
Beberapa faktor utama menjadi penghalang:
- Komitmen dan Anggaran: Kurangnya komitmen politik yang kuat dan alokasi anggaran yang memadai sering menjadi batu sandungan utama. KLA kerap hanya sebatas deklarasi tanpa implementasi konkret.
- Infrastruktur Tidak Memadai: Minimnya ruang publik yang aman dan inklusif, trotoar yang tidak ramah pejalan kaki (terutama anak-anak), serta fasilitas pendidikan dan kesehatan yang belum merata, masih menjadi pemandangan umum.
- Isu Perlindungan Anak: Kekerasan dalam rumah tangga, bullying di sekolah, eksploitasi anak, hingga kasus online grooming masih menjadi PR besar yang belum tertangani secara komprehensif.
- Partisipasi Minim: Suara dan pandangan anak-anak sering kali terabaikan dalam perencanaan kota atau kebijakan yang secara langsung memengaruhi hidup mereka.
Dampak Jangka Panjang
Ketika sebuah kota belum layak anak, dampaknya sangat serius. Hak-hak dasar anak terabaikan, membuat mereka rentan terhadap berbagai risiko, membatasi potensi tumbuh kembang, dan pada akhirnya, menghambat pembentukan generasi penerus yang unggul.
Bergerak dari Wacana ke Aksi Nyata
Mewujudkan KLA membutuhkan lebih dari sekadar slogan. Dibutuhkan sinergi kuat antara pemerintah daerah, lembaga masyarakat, sektor swasta, akademisi, dan yang terpenting, partisipasi aktif dari anak-anak itu sendiri. Investasi pada anak adalah investasi masa depan bangsa. Sudah saatnya kita bergerak dari sekadar wacana menuju aksi nyata, memastikan setiap sudut kota benar-benar menjadi rumah yang aman, nyaman, dan mendukung bagi tumbuh kembang generasi penerus.
