Berita  

Kekerasan di Lembaga Pemasyarakatan Terjadi Lagi

Lapas Berdarah Kembali: Ketika Penjara Gagal Merehabilitasi

Kabar tentang kekerasan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kembali menghiasi media. Bukan insiden terisolasi, melainkan cerminan masalah kronis yang terus membayangi sistem pemasyarakatan kita. Setiap kali terungkap, kita dihadapkan pada pertanyaan yang sama: sampai kapan?

Insiden kekerasan, baik antar narapidana maupun yang melibatkan petugas, seringkali berakar pada kompleksitas masalah. Kelebihan kapasitas (overcrowding) menjadi pemicu utama, menciptakan lingkungan yang tegang dan rentan konflik. Ditambah lagi, lemahnya pengawasan, dugaan praktik pungli, hingga kurangnya program rehabilitasi yang efektif, semakin memperburuk keadaan. Lapas, yang seharusnya menjadi tempat pembinaan, justru berubah menjadi sarang pelanggaran hak asasi manusia.

Dampak dari kekerasan ini tidak hanya sebatas luka fisik. Mental para narapidana tertekan, harapan untuk kembali ke masyarakat dengan lebih baik pupus, dan kepercayaan publik terhadap sistem peradilan terkikis. Ironisnya, tujuan pemasyarakatan untuk merehabilitasi dan reintegrasi menjadi mustahil tercapai di tengah bayang-bayang ancaman dan intimidasi.

Sudah saatnya kita berhenti sekadar terkejut. Perlu ada langkah konkret dan komprehensif: mulai dari penataan ulang kapasitas, peningkatan kualitas dan integritas petugas, hingga reformasi menyeluruh sistem pengawasan. Tanpa perubahan mendasar, Lapas akan terus menjadi lingkaran setan kekerasan yang tak berujung, jauh dari citra sebagai lembaga pembinaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *