Banjir Bandang Tak Henti: Infrastruktur "Lumpuh" dalam Ujian Berulang
Banjir bandang kembali menerjang, menyisakan duka, kerugian, dan pertanyaan klasik: Mengapa ini terus terjadi? Fenomena ini bukan lagi kejutan alam semata, melainkan cerminan dari persoalan klasik yang tak kunjung usai: ketidaksiapan infrastruktur dalam menghadapi derasnya air.
Sorotan utama kini tertuju pada sistem drainase yang buruk, normalisasi sungai yang mandek, serta tata ruang yang mengabaikan daya dukung lingkungan. Infrastruktur yang seharusnya menjadi pelindung, justru kerap menjadi "jalan tol" bagi air bah yang meluap. Pembangunan yang tak ramah lingkungan, minimnya area resapan, dan penanganan sampah yang abai turut memperparah kondisi, menyumbat saluran air, dan memicu erosi.
Kerugian material, hilangnya nyawa, dan trauma psikologis adalah harga mahal yang harus dibayar. Aktivitas ekonomi terhenti, akses terputus, memperparah kondisi masyarakat yang sudah rentan. Ini bukan hanya tentang curah hujan ekstrem, melainkan juga tentang bagaimana kita merancang dan memelihara lingkungan tempat tinggal.
Sudah saatnya berhenti menyalahkan cuaca semata. Diperlukan komitmen serius dari pemerintah dan seluruh elemen masyarakat untuk revitalisasi infrastruktur yang adaptif terhadap perubahan iklim, penegakan aturan tata ruang yang ketat, dan edukasi mitigasi bencana yang berkelanjutan. Hanya dengan langkah konkret dan terpadu, kita bisa memutus rantai bencana banjir bandang yang terus berulang. Jangan sampai infrastruktur kita terus "lumpuh" di tengah derasnya ujian alam.
